Welcome

isi welcome STIKes Muhammadiyah Palembang
PERILAKU SEKS BEBAS MAHASISWI STIKES “X” PALEMBANG TAHUN 2014

PERILAKU SEKS BEBAS MAHASISWI STIKES “X” PALEMBANG TAHUN 2014

Novita Anggraini | Keperawatan | 2016 | views 308 kali

Seksual aktif di kalangan remaja adalah realitas yang tidak bisa dipungkiri. Perilaku seksual yang tidak sehat di kalangan remaja khususnya remaja yang belum menikah cenderung meningkat. Perilaku seksual pada remaja dapat diwujudkan dalam tingkah laku yang bermacam-macam, mulai dari perasaan tertarik, berkencan, berpegangan tangan, mencium pipi, berpelukan, mencium bibir, memegang buah dada di atas baju, memegang buah dada di balik baju, memegang alat kelamin di atas baju, memegang alat kelamin di bawah baju, dan melakukan senggama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor-faktor dengan perilaku seks bebas mahasiswi STIKes “X” Palembang Tahun 2014.  Metode penelitian menggunakan survey analitik  dengan menggunakan rancangan cross sectional. Populasi penelitian adalah mahasiswi STIKes “X” Palembang berjumlah 106 responden. Hasil uji statistik diketahui bahwa responden yang berperilaku seks bebas sebesar 81,1%. Hasil uji chi square diketahui bahwa ada hubungan antara perilaku seks bebas dengan variabel pengetahuan dan peran orang tua (p value 0,047 dan 0,005), sedangkan diketahui tidak ada hubungan antara perilaku seks bebas dengan variabel sikap (p value 1,000), peran teman sebaya (p value 0,996), dan sumber informasi (p value 0,438). Analisis multivariat diketahui bahwa peran orang tua merupakan faktor yang paling berpengaruh perilaku seks bebas (PR 4,677). Sebagai orang tua hendaknya memberikan pengetahuan tentang seks bebas dan menjalin komunikasi yang baik dengan anak sehingga orang tua dapat mengetahui problem pada anak, dan orang tua dapat mengarahkan dan mengawasi anak agar tidak salah mengambil tindakan sehingga dapat mencegah mereka agar tidak melakukan seks bebas.

Kata Kunci       : Seks bebas, Perilaku, Mahasiswi

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN DALAM PEMBATASAN ASUPAN CAIRAN PADA KLIEN  MENJALANI TERAPI HEMODIALISA DI RUMAH SAKIT ISLAM SITI KHADIJAH PALEMBANG TAHUN 2016

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN DALAM PEMBATASAN ASUPAN CAIRAN PADA KLIEN MENJALANI TERAPI HEMODIALISA DI RUMAH SAKIT ISLAM SITI KHADIJAH PALEMBANG TAHUN 2016

Setiawan | Keperawatan | 2016 | views 294 kali

Hemodialisa merupakan salah satu dari terapi pengganti ginjal yang diguakan pada penderita dengan penurunan fungsi ginjal, baik akut maupun kronik. Di dunia sekitar 2.622.000 orang yang telah menjalani pengobatan End-Stage Renal Disease, sebanyak 2.029.000 orang (77%) diantaranya menjalani  pengobatan bdialysis dan 539.000 orang (23%) menjani transplantasi ginjal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan dalam pembatasan asupan cairan pada pasien yang menjalani terapi hemodialisa di RSI Siti Khadijah Palembang. Desain penelitian ini menggunakan metode suvey analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada 21 - 29 April 2016. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang menajalani terapi hemodialisa di RSI Siti Khadijah Palembang. Pengambilan sampel secara purposive sampling, jumlah sampel sebanyak 24 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesiner. Hasil penelitian menunjukan bahwa Ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan dalam pembatasan asupan cairan (p value = 0,011), Ada hubungan antara lama menjalani terapi dengan kepatuhan dalam pembatasan asupan cairan (p value = 0,014), dan Ada hubungan anatara dukungan keluarga dengan kepatuhan dalam pembatasan asupan cairan (p value = 0,011). Saran untuk perawat diruang hemodialisa diharapkan terus memberikan informasi dan motivasi kepada pasien yang menjalani terapi hemodialisa untuk mematuhi pembatasan asupan cairan, dan untuk keluarga diharapkan untuk selalu memberikan dukungan karena dukungan sangat penting bagi pasien yang menjalani terapi hemodialisa.

Kata kunci : Kepatuhan, Pembatasan Cairan, Hemodialisa 

Kadar Malondialdehide (MDA) dan Lactate Dehidrogenase (LDH) Pada Latihan Aerobik dan Anaerobik

Kadar Malondialdehide (MDA) dan Lactate Dehidrogenase (LDH) Pada Latihan Aerobik dan Anaerobik

Husin | Keperawatan | 2016 | views 175 kali

Pada aktivitas fisik baik aerobik maupun anaerobik terjadi peningkatan kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi otot yang beraktivitas. Pada latihan fisik ini bisa berdampak terjadinya peningkatan radikal bebas yang berasal dari oksigen yang diperlukan untuk membentuk energi yang berupa ATP melalui proses oksidasi yang terjadi dalam mitokondria Tingginya kecepatan metabolisme pada latihan fisik akan mengakibatkan terjadinya penumpukan asam laktat. Hal ini terjadi akibat kecepatan kebutuhan energi melebihi kecepatan kemampuan sistem transportasi oksigen untuk mensuplai oksigen ke dalam mitokondria. . Produksi laktat yang meningkat akan berubah radikal bebas lemah (radikal superoksida) menjadi radikal bebas kuat (radikal hidroksil) sehingga berpotensi menimbulkan kerusakan jaringan. Indikator yang mendukung terjadinya kerusakan jaringan, diantaranya adalah laktat dehidrogenase (LDH). Aktivitas yang meningkat akan mengakibatkan stress oksidatif kemudian Malondialdehide (MDA) dalam darah (serum)  dapat dijadikan indikator stress oksidatif.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis kadar MDA dan LDH pada latihan aerobik dan anaerobik. Penelitian ini adalah penelitian experimental. Adapun rancangan yang digunakan adalah Randomized Pretest-Postest Design, yang dilakukan di Jakabaring Sport Center Palembang. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa FKIP Bina Darma yang tidak terlatih memenuhi kriteria inklusi, berjumlah 34 orang yang terbagi dalam dua kelompok, yaitu 17 orang kelompok perlakuan yang melakukan aerobik dan 17 orang kelompok perlakuan yang melakukan anerobik . Data dianalisis menggunakan uji t berpasangan, dengan taraf signifikan p<0,05. Berdasarkan hasil analisis uji t didapatkan hasil bahwa 1) ada peningkatan yang tidak bermakna kadar MDA yaitu 0,197 + 0,092 sebelum aktivitas fisik dan 0,214 + 0,12 sesudah aktivitas fisik pada kelompok perlakuan aerobik p=0,612 dan ada peningkatan yang tidak bermakna pada kelompok  anaerobik 0,189 + 0,064 menjadi 0,303 + 0,24 dengan p=0,108 , 2) ada peningkatan kadar LDH yang bermakna sebelum dan sesudah pada kelompok perlakuan aerobik yaitu 131,59 + 15,496 menjadi 158,06 + 17,10 p=0,000  dan ada perbedaan yang bermakna pada kelompok perlakuan anaerobik yaitu 141,41 + 19,378 menjadi 159,41 + 20,78 p=0,000. Ada peningkatan aktivitas fisik aerobik dan anerobik terhadap kadar MDA dan LDH pada orang tidak terlatih.

Kata Kunci: Aktivitas Aerobik dan Anaerobik, Malondialdehide, Laktat Dehidrogenase

Hubungan Pengetahuan Dan Pendidikan Ibu Dengan Pertumbuhan Balita  DI Puskesmas Plaju Palembang Tahun 2014

Hubungan Pengetahuan Dan Pendidikan Ibu Dengan Pertumbuhan Balita DI Puskesmas Plaju Palembang Tahun 2014

Enderia Sari | Kebidanan | 2016 | views 314 kali

Latar belakang Dari hasil United Nations International Children's Emergency Fund (UNICEF), World Health Organization (WHO) The World Bank Joint Child Malnutrium Estimates 2012, diperkirakan 165 juta anak usia dibawah 5 tahun mengalami penurunan gizi dibandingkan dengan sebanyak 253 juta tahun 1990. Dari data di Puskesmas Plaju Palembang menurut cakupan DDTK Tahun 2013 dari 6.803 jumlah balita yang ada, hanya 6.251 (91,8%) target cakupan DDTK yang tercapai.Tujuan untuk mengetahui Hubungan Pengetahuan dan Pendidikan Ibu dengan Pertumbuhan Balita di Puskesmas Palembang Tahun 2014.Desain penelitian: adalah metode survey analitik dengan rancangan cross sectional. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling.Populasi: pada penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki anak balita umur 1-5 tahun yang datang ke Puskesmas Plaju ,dan sampel pada penelitian ini adalah sebagian ibu yang memiliki anak balita umur 1-5 tahun yang datang ke Puskesmas Plaju.Analisi: Hasil analisis univariat pertumbuhan balita yang baik sebanyak 43 responden (71,7%) dan kurang 17 responden (28,3%), pengetahuan baik 33 responden (55,0%) dan kurang 27 responden (45,0%), pendidikan tinggi yaitu 39 responden (65,0%) dan rendah 21 responden (35,0%). Analisa bivariat hubungan pengetahuan dengan pertumbuhan balita lebih banyak yang baik yaitu sebanyak 33 responden (71,7%) daripada yang kurang, hasil uji Chi Square diperoleh p value = 0,013 ≤ α = 0,05. Hubungan pendidikan dengan pertumbuhan balita lebih banyak yang baik yaitu sebanya 39 responden (71,7%) daripada yang kurang, hasil uji Chi Square diperoleh p value = 0,033 ≤ α = 0,05.Kesimpulan: ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan pendidikan ibu dengan pertumbuhan balita. Saran diharapkan pada petugas kesehatan memberikan penyuluhan kepada ibu-ibu yang memiliki anak balita tentang pertumbuhan

Kata Kunci: Pertumbuhan balita, Pengetahuan ibu, Pendidikan ibu. 

KARAKTERISTIK DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT KECEMASAN  PASIEN PRE OPERASI MAYOR DI RUMAH SAKIT  MUHAMMADIYAH PALEMBANG

KARAKTERISTIK DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI MAYOR DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG

Siti Romadoni | Keperawatan | 2016 | views 266 kali

Operasi merupakan salah satu cara pengobatan dalam kondisi yang sulit atau tidak mungkin untuk disembuhkan hanya dengan obat-obatan sederhana, Kecemasan pasien pre operasi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Usia muda cenderung mudah mengalami stres dari pada yang berusia lebih tua dan kurang pengalaman untuk menyelesaikan masalah, tingkat pendidikan juga menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan, dukungan dari orang terdekat untuk memberikan semangat dan motivasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik dan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi mayor. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif melalui pendekatan cross sectional, pengumpulan data menggunakan kuesioner. Metode pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dan sampel yang didapatkan selama penelitian ini berjumlah 54 responden. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2014. Dari hasil penelitian rata-rata usia responden 38.45 (SD 12.23), sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (57.4%), sebagian besar responden mempunyai tingkat pendidikan tinggi (53.7%), sebagian besar responden memiliki dukungan keluarga yang baik (63.0%), sebagian besar responden mengalami tingkat kecemasan ringan (51,9%), hasil analisis menggunakan uji chi-square didapatkan ada hubungan antara usia responden dengan tingkat kecemasan (p=0.001), ada hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kecemasan (p=0.020), tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat kecemasan (p=0.914), dan ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan (p=0.002).

 

Kata Kunci: karakteristik, dukungan keluarga, tingkat kecemasan, pre operasi mayor

 

FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN 2013

FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PLASENTA PREVIA DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN 2013

Rosmiarti | Kebidanan | 2016 | views 142 kali

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di seluruh dunia, ada 500.000 kematian ibu per tahun dan mortalitas terutama neonatal 10 juta per tahun di dunia dan memperkirakan bahwa jika seorang ibu hanya melahirkan 3 anak, angka kematian ibu dapat recuded 300.000 kehidupan dan kematian bayi menjadi 5,6 juta jiwa per tahun. Dari kematian ibu dan perinatal, mayoritas terjadi di negara berkembang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan faktor risiko berkorelasi dengan kejadian plasenta previa di Rumah Sakit Muhammadyah Palembang pada tahun 2013. itu adalah survei analitik dengan approarch cross sectional. Populasi yang 1.629 responden, 94 responden diambil secara random sampling menggunakan Systematic Random Sampling. Variabel penelitian meliputi variabel independen (pendidikan, pekerjaan, riwayat operasi caesar, riwayat abortus) dan variabel dependen (plcenta previa). Dari analisis univariat, wanita dengan plasenta previa adalah 55,3% dan tanpa itu adalah 44,7%. Ibu yang memiliki pendidikan tinggi adalah 66,0% dan yang memiliki pendidikan rendah 34,0%. Ibu yang dipekerjakan adalah 34,0% dan yang menganggur 66,0% .Mothers yang memiliki sejarah operasi caesar adalah 70,2 dan yang tidak memiliki sejarah operasi caesar 29,8%. Ibu yang memiliki riwayat abortus yang 54,3% dan yang tidak memiliki riwayat abortus 45,7%. Dari analisis bivariat dengan uji statistik Chi-Square menunjukkan p value 0,002 ≤ 0,05 bahwa ada korelasi antara pendidikan ibu dengan kejadian plasenta previa, p value = 0.335> 0,05 menunjukkan tidak ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan kejadian plasenta previa, p value 0,002 ≤ 0,05 menunjukkan ada hubungan antara sejarah operasi caesar dengan kejadian plasenta previa, dan nilai p 0,001 ≤ 0,05 menunjukkan ada hubungan antara riwayat abortus dengan kejadian plasenta previa. disarankan untuk petugas kesehatan untuk memberikan IEC dan meningkatkan pelayanan kesehatan, terutama tentang plasenta previa dalam rangka meningkatkan pengetahuan masyarakat dan untuk mengurangi angka kematian dan kesakitan.

 

Kata kunci: Plasenta Previa, Pendidikan, Pekerjaan, Riwayat Caesar, Riwayat  Aborsi

 

EFEKTIFITAS LARUTAN ASAM CUKA DALAM MENURUNKAN KANDUNGAN LOGAM BERAT CADMIUM (Cd) DALAM DAGING KERANG

EFEKTIFITAS LARUTAN ASAM CUKA DALAM MENURUNKAN KANDUNGAN LOGAM BERAT CADMIUM (Cd) DALAM DAGING KERANG

Zairinayati | Kesehatan Lingkungan | 2016 | views 294 kali

Kegiatan pembangunan, terutama di sektor industri yang pada prinsipnya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, juga dapat menurunkan derajat kesehatan masyarakat. Keberadaan industri yang bergerak dalam bidang electro plating dapat mempengaruhi perairan sehingga terjadi pencemaran air sungai dan laut. Peningkatan kadar logam berat dalam air tersebut akan diikuti peningkatan logam kadar logam berat dalam biota air khususnya golongan kerang-kerangan dan udang-udangan, yang memiliki sifat menyaring air, lebih banyak menetap dan mengakumulasi bahan-bahan kedalam jaringan tubuh. Konsentrasi tinggi kandungan logam berat Cadmium (Cd) dalam kerangakan mempengaruhi kesehatan melalui rantai makanan, seperti keracunan akut dan kronis, hingga efek karsinogenik. Untuk mengurangi kandungan logam berat Cd dalam daging kerang salah satu metode yang digunakan adalah dengan perendaman menggunakan larutan asam cuka. Tujuan dari penelitian in iadalah untuk mengukur efektivitas larutan asam cuka terhadap penurunan kandungan logam berat Cd dalam daging kerang. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, dengan menentukan nilai kontrol dan nilai intervensi dengan 10 perlakuan. Sampel diambil 5 gram dalam 25 cc air dengan persentase 25%, 22,5, 20, 17,5, 15, 12,5,10, 7,5, 5, 2,5 di rendam selama 1 jam. Hasil penelitian menunjukkan kandungan logam berat Cadmium (Cd) dalam daging kerang sebelum diberi perlakuan adalah 0,0142 ppm dan setelah diberi perlakuan terjadi penurunan yang paling tinggi 0,0003 ppm (79,9%)  terdapat pada dosis 20% dan terendah adalah 0,0130 (8,4%) pada dosis 5%. Kesimpulan dari penelitian adalah dosis larutan asam cuka yang efektif dalam menurunkan kandungan logam berat Cadmium (Cd) dalam daging kerang terjadi pada perlakuan 20%.

HUBUNGAN PERILAKU PERAWAT TERHADAP PELAKSANAAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR DALAM PEMASANGAN IVFD DIRUANG  RAWAT INAP RUMAH SAKIT PELABUHAN  PALEMBANG TAHUN 2014

HUBUNGAN PERILAKU PERAWAT TERHADAP PELAKSANAAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR DALAM PEMASANGAN IVFD DIRUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT PELABUHAN PALEMBANG TAHUN 2014

Amalia | Keperawatan | 2016 | views 304 kali

Terapi intravena merupakan suatu tindakan untuk memenuhi kebutuhan cairan pada klien yang tidak mampu mengkonsumsi cairan oral secara adekuat, untuk menjaga keseimbangan elektrolit, glukosa dalam proses metabolisme serta menjadi media untuk pemberian obat melalui pembuluh darah vena. Salah satu akibat dari pemasangan infus yaitu flebitis.DiIndonesia 9,8 %pasienrawatinapmendapatinfeksiyangbaruselamadirawat. Rumah Sakit Pelabuhan Palembang pada tahun 2014 didapatkan angka 1587 kali pemasangan infus, apabila pemasangan IVFD tidak dilakukan sesuai Standar Operasional Prosedur maka dikhawatirkan akan terjadi infeksi nosokomial (flebitis).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku perawat terhadap pelaksanaan Standar Operasional Prosedur dalam pemasangan IVFD. Penelitian inimenggunakan metode kuantitatif dengan rancangan Cross Sectional.Sampel penelitian ini adalah Perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Pelabuhan Palembang tahun 2014, Sampel penelitian sebanyak 38 perawat yang ditentukan dengan menggunakan porposive sampling. Sumber data diperoleh dengan menggunakan kuisioner dan wawancara. Penelitian ini dilakukan pada 24 November-1 Desember 2014.Analisis data menggunakan uji chi square. Hasil penelitian didapatkan variabel pengetahuan p value(0,011), sikapp value (0,002), tindakanp value (0,003), simpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara variabel pengetahuan, sikap dan tindakanterhadap pelaksanaan Standar Operasional Prosedur pemasangan IVFD di ruang rawat inap Rumah Sakit Pelabuhan Palembang. Berdasarkan hasil peneltian di harapkan kepada pihak Rumah Sakit Pelabuhan Palembang hendaknya dapat dijadikan bahan evaluasi sehingga dapat mengatasi masalah yang ada dengan mengadakan review ulang atau pelatihan-pelatihan tentang Standar Operasional Prosedur sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit.

 

Kata kunci:Standar Operasional Prosedur, Infeksi Nosokomial, IVFD

PENGARUH PROGRAM PELATIHAN PRISAI (PERILAKU IBU SAYANG BAYI) TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DALAM MENSTIMULASI TUMBUH KEMBANG BAYI 0−6 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUKAJADI KABUPATEN BANYUASIN TAHUN 2015

PENGARUH PROGRAM PELATIHAN PRISAI (PERILAKU IBU SAYANG BAYI) TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DALAM MENSTIMULASI TUMBUH KEMBANG BAYI 0−6 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUKAJADI KABUPATEN BANYUASIN TAHUN 2015

Septi Ardianty | Keperawatan | 2016 | views 282 kali

Ibu merupakan seseorang yang memiliki peran penting dalam sejarah tumbuh kembang seorang bayi. Pengetahuan dan sikap seorang ibu terhadap stimulasi tumbuh kembang bayi merupakan salah satu upaya agar tumbuh kembang bayi berjalan secara optimal. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh sebelum dan setelah Program Pelatihan PRISAI (Prilaku Ibu Sayang Bayi) dalam menstimulasi tumbuh kembang bayi usia 0−6 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Sukajadi Kabupaten Banyuasin. Metode penelitian quasi experiment pre-test and post-test with control group design. Sebanyak 44 kelompok intervensi dan 44 kelompok kontrol populasi ibu yang memiliki bayi tidak mendapatkan ASI eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Sukajadi Kabupaten Banyuasin. Pengelompokkan dilakukan berdasarkan pengocokan koin. Kelompok intervensi mendapatkan Program Pelatihan PRISAI (Perilaku Ibu Sayang Bayi) di Puskesmas Sukajadi, selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan paired t-test dan independen t-test. Hasil penelitian ini adalah Program Pelatihan PRISAI (Perilaku Ibu Sayang Bayi) secara signifikan tidak meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu pada kelompok kontrol (p=0,09), dan secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu pada kelompok Intervensi (p= 0,001). Terdapatnya perbedaan bermakna pada pengetahuan (p= 0,001) dan sikap ibu (p=0,001) sesudah Program Pelatihan PRISAI (Perilaku Ibu Sayang Bayi) dalam menstimulasi tumbuh kembang bayi 0-6 bulan pada kelompok intervensi dan kontrol. Perawat komunitas dapat mengintegrasikan Program pelatihan PRISAI (Perilaku Ibu Sayang Bayi) ke Program Puskesmas sebagai upaya promotif dan preventif tumbuh kembang bayi.

Kata Kunci : Bayi, Ibu, Pengetahuan, Pelatihan Perilaku, Sikap, Tumbuh  Kembang.

 

HUBUNGAN UMUR DAN PARITAS IBU TERHADAP PEMERIKSAAN KEHAMILANDI UPTD  PUSKESMAS KEMALARAJA  KECAMATAN BATURAJA TIMUR KABUPATEN OGAN  KOMERING ULU TAHUN 2013

HUBUNGAN UMUR DAN PARITAS IBU TERHADAP PEMERIKSAAN KEHAMILANDI UPTD PUSKESMAS KEMALARAJA KECAMATAN BATURAJA TIMUR KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TAHUN 2013

Heriani | Kebidanan | 2015 | views 220 kali

World Health Organisation (WHO) memperkirakan lebih dari 585.000 ibu pertahunnya meninggal saat hamil atau bersalin. Lebih dari 50% kematian di Negara berkembang sebenarnya dapat dicegah dengan rutin melakukan pemeriksaan kehamilan. Indikator pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dilihat dari jumlah kunjungan ibu hamil yang memeriksa kehamilan sarana kesehatan atau disebut K1 dan K4 dari perkiraan jumlah sarana ibu hamil pada tahun 2012 diperoleh jumlah cakupan pelayanan K1 sebanyak 942 ibu hamil dengan pencapaian 96,7% dan cakupan K4 didapatkan sebanyak 845 ibu hamil dengan pencapaian 89,7%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan umur dan paritas ibu terhadap pemeriksaan kehamilan di UPTD Puskesmas Kemalaraja Kecamatan Baturaja Timur Kabupaten Ogan Komering Ulu tahun 2013.

            Jenis penelitian survey analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang datang ke UPTD Puskesmas Kemalaraja Kecamatan Baturaja Timur Kabupaten Ogan Komering Ulu tahun 2013 yaitu sejumlah 248 ibu hamil. Sampel penelitian menggunakan metode accidental sampling yang didapatkan sebanyak 40 ibu hamil. Pengumpulan data melalui check list. Pengolahan data secara analisa univariat dan bivariat.

         Dari hasil penelitian didapatkan hasil ada hubungan antara umur dengan pemeriksaan kehamilan (p value 0,028) dan ada hubungan antara paritas dengan pemeriksaan kehamilan (p value 0,028).Peneliti memberikan saran bagi pihak UPTD Puskesmas Kemalaraja agar kiranya menyediakan fasilitas bagi ibu-ibu hamil dengan mengadakan penyuluhan kepada ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan.

 

Kata kunci : Umur, Paritas, Pemeriksaan Kehamilan