Welcome

JURNAL MASKER MEDIKA STIKES MUHAMMADIYAH PALEMBANG
PERBEDAAN KADAR HEMOGLOBIN DAN KOLESTROL PADA MASYARAKAT PEROKOK DAN TIDAK MEROKOK DI RW 07 KELURAHAN TANGGA TAKAT WILAYAH KERJA PUSKESMAS TAMAN BACAAN PALEMBANG TAHUN 2017

PERBEDAAN KADAR HEMOGLOBIN DAN KOLESTROL PADA MASYARAKAT PEROKOK DAN TIDAK MEROKOK DI RW 07 KELURAHAN TANGGA TAKAT WILAYAH KERJA PUSKESMAS TAMAN BACAAN PALEMBANG TAHUN 2017

YUDI ABDUL MAJID | Keperawatan | 2017 | views 14 kali

ABSTRAK

Rokok merupakan zat adiktif yang dapat membahayakan kesehatan individu atau masyarakat yang mengkonsumsinya. Perilaku merokok dapat ditemui disemua lapisan pada lingkungan masyarakat bahkan ditempat fasilitas umum. Peningkatan jumlah perokok di Indonesia semakin meningkat, pada tahun 2016 data  dari The Tobacco Atlas 2015 Indonesia meraih peringkat satu dunia untuk jumlah pria perokok di atas usia 15 tahun. Peningkatan jumlah prilaku merokok di Indonesia tersebut dapat berdampak negatif terhadap kesehatan masyarakat. Komponen tubuh yang dapat menjadi indikator kesehatan seseorang baik perokok maupun bukan perokok salah satunya adalah kadar hemoglobin dan kolestrol tubuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Perbedaan Kadar Hemoglobin dan Kolestrol Pada Masyarakat Perokok dan Tidak Merokok di RW 07 Kelurahan Tangga Takat Wilayah Kerja Puskesmas Taman Bacaan Palembang tahun 2017. Rancangan penelitian adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan case control. Populasi penelitian adalah masyarakat RW. 07 Kelurahan Tangga Takat. Pemilihan sampel dengan teknik accidental sampling didapatkan 60 responden (30 responden dengan perilaku merokok dan 30 responden yang tidak merokok). Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara kadar hemoglobin masyarakat merokok dan tidak merokok dengan nilai p value 0,001 dan tidak terdapat perbedaan kolestrol masyarakat merokok dan tidak merokok dengan p value 0,548. Perbedaan kadar hemoglobin tersebut terjadi karena asap rokok mengandung gas karbonmonoksida yang memiliki daya ikat lebih kuat dengan hemoglobin sehingga dalam waktu panjang akan terjadi proses erythropoiesis sehingga kadar hemoglobin akan semakin tinggi. Begitu juga rata-rata kolestrol masyarakat perokok lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok masyarakat tidak merokok hal ini disebabkan oleh kandungan rokok yang mengandung nikotin yang dapat meningkatkan lemak jahat (LDL) dan menurunkan kadar Lemak baik (HDL). Dari hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa ada perbedaan kadar hemoglobin masyarakat kelompok perokok dan tidak merokok dan Tidak terdapat perbedaan kadar kolesterol masyarakat kelompok perokok dan tidak merokok. 
Kata Kunci: Hemoglobin, Kolestrol, Merokok, Usia Dewasa

DETERMINAN KEJADIAN ANEMIA DEFISIENSI ZAT BESI PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS NAGASWIDAK PALEMBANG TAHUN 2017

DETERMINAN KEJADIAN ANEMIA DEFISIENSI ZAT BESI PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS NAGASWIDAK PALEMBANG TAHUN 2017

Tri Restu Handayani | Kebidanan | 2017 | views 36 kali

ABSTRAK
 
Anemia pada ibu hamil disebut “ Potensial danger to mother and child ” (potensial membahayakan ibu dan anak). Menurut World Health Organization (WHO) kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi. Prevalensi anemia defisiensi zat besi pada ibu hamil di Puskesmas Nagaswidak Palembang pada tahun 2013 sebesar 15,6%. Pada tahun 2014 angka tersebut meningkat menjadi 21,4%, sedangkan pada tahun 2015 prevalensi kejadian anemia defisiensi zat besi pada ibu hamil sebesar 20,3%. Penelitian ini bertujuan untuk diketahuinya hubungan umur, paritas, jarak kehamilan, pendapatan dan kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe terhadap kejadian anemia defisiensi zat besi dan faktor yang paling berhubungan dengan kejadian anemia defisiensi zat besi pada ibu hamil. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 40 ibu hamil yang memenuhi kriteria inklusi, memeriksakan kehamilannya di  Puskesmas Nagaswidak Palembang pada tanggal 16-23 Januari 2017. Pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling. Data dianalisis menggunakan distribusi frekuensi, chi square dan multiple logistic regressions. Prevalensi anemia defisiensi zat besi 52,5%. Variabel umur (p value=0,004; OR=7,286), paritas (p value=0,002; OR=9,208), jarak kehamilan (p value=0,012; OR=5,417), kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe (p value=0,001; OR=1-,667) dan pendapatan (p value =0,210; OR=2,234). Analisis regresi logistik diperoleh hasil variabel kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe (OR = 19,876) dan paritas ()R = 14,168). Faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia defisiensi zat besi adalah umur, paritas, jarak kehamilan dan kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe. Faktor yang paling berhubungan adalah kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe. Diharapkan kepada semua pihak terkait baik petugas kesehatan maupun ibu hamil dan calon ibu hamil untuk mempertimbangkan faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab terjadinya anemia defisiensi zat besi pada masa kehamilan.
Kata kunci : anemia, defisiensi zat besi

<div>FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KETERAMPILAN MELAKSANAKAN TINDAKAN RESUSITASI PADA NEONATUS YANG MENGALAMI KEGAWATAN NAFAS DI RSUD PALEMBANG BARI TAHUN 2017</div>

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KETERAMPILAN MELAKSANAKAN TINDAKAN RESUSITASI PADA NEONATUS YANG MENGALAMI KEGAWATAN NAFAS DI RSUD PALEMBANG BARI TAHUN 2017

Setiawan | Keperawatan | 2017 | views 44 kali

ABSTRAK
 
Kegawatan pernafasan dapat terjadi pada bayi dengan penyakit pernafasan yang dapat menimbulkan dampak yang cukup berat akibat gangguan pada sistem pernafasan berupa kekurangan oksigen (hipoksia) pada tubuh dan juga henti nafas atau bahkan kematian.. Depresi nafas yang dimanifestasikan dengan apneu yang memanjang hanya dapat diatasi dengan pemberian oksigen dengan tekanan positif, massase jantung eksternal dan koreksi keadaan asidosis melalui mekanisme resusitasi. Keberhasilan tindakan resusitasi sangat dipengaruhi oleh seorang tenaga kesehatan baik dokter, perawat, maupun bidan sebagai ujung tombak dalam memberikan tindakan resusitasi. Penelitian ini menggunakan metode survey analitik dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah seluruh tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat dan bidan yang bekerja di IGD, Ruang Kebidanan, dan Ruang NICU yang berjumlah 108 orang dengan sampel sebanyak 52 responden. Penelitian dilaksanakan di ruang IGD, Kebidanan, dan NICU RSUD Palembang Bari pada bulan Juni – Juli tahun 2017. Berdasarkan hasil uji statistik dengan Chi-square, diketahui ada hubungan yang bermakna antara umur dan keterampilan dengan p-value 0,003. Ada hubungan antara tingkat pendidikan dan keterampilan dengan p-value 0,045. Ada hubungan antara lama kerja dan keterampilan dengan p-value 0,012. ada hubungan antara status kepegawaian keterampilan dengan p-value 0,012. Ada hubungan antara pengetahuan dan keterampilan dengan p-value sebesar 0,017. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara umur, tingkat pendidikan, lama kerja, status kepegawaian, dan pengetahuan dengan keterampilan melaksanakan tindakan resusitasi pada Neonatus yang mengalami kegawatan nafas di Rumah Sakit Umum Daerah Palembang Bari tahun 2017. Sehingga Penulis menyarankan RSUD Palembang Bari agar dapat mengadakan kegiatan seminar dan pelatihan resusitasi pada neonatus dengan kegawatan nafas sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan khususnya dalam pelaksanaan tindakan resusitasi sesuai prosedur.
Kata Kunci : Faktor Karakteristik, Keterampilan resusitasi pada neonatus. 

<div>HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBU DENGAN ABORTUS INKOMPLIT DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN 2016</div>

HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBU DENGAN ABORTUS INKOMPLIT DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN 2016

Septiana Rahayu | Kebidanan | 2017 | views 38 kali

ABSTRAK
 
World Health Organization ( WHO ) memperkirakan 15-50 % Kematian ibu disebabkan oleh abortus. komplikasi abortus berupa perdarahan atau infeksi dapat menyebabkan kematian. Itulah sebabnya mengapa kematian ibu yang disebabkan abortus sering tidak muncul dalam laporan kematian , tapi dilaporkan sebagai perdarahan atau sepsis. Berdasarkan data dari RS.Muhammadiyah Palembang tahun 2015-2016 terdapat 263 kasus Abortus inkomplit yang 48 diantaranya mengalami syok hemoragik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu dengan abortus inkomplit yang mengalami syok hemoragik di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang rahun 2015-2015. Desain penelitian ini menggunakan penelitian desktriptif dengan variabel, Usia Ibu, Paritas, Pendidikan Ibu, dan Pekerjaan Ibu. Dengan Populasi ibu yang mengalami abortus inkomplit disertai syok hemoragik, sampel berjumlah 48, besarnya sampel sama dengan populasi yang tercatat dalam buku register catatan non persalinan di ruang kebidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang tahun 2015-2016.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dari 48 ibu dengan abortus inkomplit yang disertai syok hemoragik tertinggi terjadi pada ibu dengan usia risiko tinggi 26 (51%), paritas rendah sebanyak 34 (70,9%), pendidikan tinggi 25 (52,1%) dan pada ibu yang tidak bekerja 42 (70,9%).Disarankan kepada ibu selama hamil untuk rutin memeriksakan kehamilan kepada petugas kesehatan serta jangan segan untuk mencari informasi seputar kehamilan , sehingga dapat mencegah tanda – tanda bahaya dan komplikasi secara dini agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Kata Kunci : Abortus inkomplit

<div>GAMBARAN PASIEN HIPEREMESIS GRAVIDARUM DI BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BARI PALEMBANG PERIODE JANUARI 2010 – DESEMBER 2012</div><div><br /></div>

GAMBARAN PASIEN HIPEREMESIS GRAVIDARUM DI BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BARI PALEMBANG PERIODE JANUARI 2010 – DESEMBER 2012

Okky Rizka Sesarina | Kebidanan | 2017 | views 36 kali

ABSTRAK
 
Hiperemesis gravidarum (HG) adalah bentuk berat dari mual dan muntah pada awal kehamilan yang ditandai dengan dehidrasi, gangguan elektrolit, gangguan metabolik dan defisiensi nutrisi. Penyebab pasti hiperemesis gravidarum masih belum diketahui. Angka kejadian hiperemesis gravidarum bervariasi antara 0,5%-3,2%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian dan gambaran pasien hiperemesis gravidarum di Bagian Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bari Palembang Periode Januari 2010 - Desember 2012. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan data sekunder (rekam medik) dengan jumlah sampel sebanyak 80 orang. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa kejadian hiperemesis gravidarum di RSUD Bari Palembang periode Januari 2010 - Desember 2012 sebesar 1,26%. Kasus ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum pada kelompok usia ≤ 20 tahun sebesar 8,8%, usia 21-25 tahun sebesar 33,8%, usia 26-30 tahun sebesar 35%, usia 31-35 tahun sebesar 12,5% dan usia > 35 tahun sebesar 10%. Ibu yang tidak bekerja sebesar 87,5% dan yang bekerja sebesar 12,5%. Ibu dengan pendidikan rendah sebesar 56,2%, pendidikan sedang 26,2% dan pendidikan tinggi 17,5%. Ibu primigravida sebesar 41,3%, multigravida sebesar 51,2%, dan grandemultipara sebesar 7,5%. Ibu pada trimester pertama kehamilan sebesar 95% dan pada trimester II kehamilan sebesar 5%. Ibu yang tidak memiliki riwayat HG sebelumnya sebesar 76,6% dan yang memiliki riwayat HG sebesar 23,4%. Paling banyak pasien dirawat di rumah sakit selama 3 hari. Simpulan: Ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum banyak ditemukan pada ibu usia muda, tidak bekerja, pendidikan rendah, multigravida, trimester pertama kehamilan, tidak memiliki riwayat hiperemesis gravidarum sebelumnya dan paling banyak dirawat dirumah sakit selama 3 hari.
Kata kunci : Hiperemesis gravidarum, gambaran pasien, mual, muntah

<div>ANALISIS KEJADIAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM PADA IBU HAMIL DI BIDAN PRAKTIK MANDIRI ELLNA PALEMBANG TAHUN 2017</div>

ANALISIS KEJADIAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM PADA IBU HAMIL DI BIDAN PRAKTIK MANDIRI ELLNA PALEMBANG TAHUN 2017

Nen Sastri | Kebidanan | 2017 | views 87 kali

ABSTRAK

 
Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2014 Angka Kematian Ibu (AKI) di dunia yaitu 289.000 jiwa. Diperkirakan 800 perempuan meninggal setiap harinya akibat komplikasi kehamilan dan kelahiran. Sekitar 80% kematian seorang wanita terjadi saat hamil, bersalin, atau 42 hari setelah persalinan dengan penyebab yang berhubungan langsung atau tidak langsung terhadap persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk diketahuinya gambaran karakteristik ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum di BPM Ellna Palembang Tahun 2017.Penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan pendekatan case control.Menggunakan data sekunder, yang diperoleh melalui observasi rekam medik pasien ibu hamil trimester I. Populasi penelitian ini adalah semua ibu  hamil di BPM Ellna Palembang pada bulan Maret sampai dengan bulan Mei Tahun 2017. Pada saat dilakukan pengambilan sampel dengan tehnik total populasi dengan jumlah 78ibu hamil. Analisa data yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian bahwa dari 78 ibu hamilyang usia resiko rendah sebanyak 46 orang, paritas 1->3) sebanyak 46 orang, ibu hamil yang tidak bekerja sebanyak 66 orang, yang mengalami hiperemesis gravidarum sebanyak 47 orang.  Simpulannya ada hubungan usia dengan hiperemesis gravidarum pada ibu hamil, ada hubungan paritas  dengan hiperemesis gravidarum pada ibu hamil, ada hubungan pekerjaan dengan hiperemesis gravidarum pada ibu hamil.
Kata kunci: Hiperemesis Gravidarum pada ibu hamil

<div>PENGARUH KOMPRES HANGAT TERHADAP PENURUNAN FISIOLOGI NYERI PERSALINAN KALA 1 FASE AKTIF DI KLINIK AFRI </div><div>KABUPATEN OGAN ILIR TAHUN 2017</div>

PENGARUH KOMPRES HANGAT TERHADAP PENURUNAN FISIOLOGI NYERI PERSALINAN KALA 1 FASE AKTIF DI KLINIK AFRI 
KABUPATEN OGAN ILIR TAHUN 2017

Meta Nurbaiti | Kebidanan | 2017 | views 32 kali

ABSTRAK
 
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42), lahir spontan dengan persentasi belakang kepala, tanpa komplikasi baik ibu maupun janin (Purwaningsih dkk, 2010). Persepsi terhadap nyeri selama persalinan dapat dikurangi jika mempunyai cukup pengetahuan, percaya diri dan mendapatkan dukungan yang baik dari pasangan, pemberi perawatan yang terlatih dan berpengalaman. Hanya dengan mengetahui penyebab nyeri persalinan sudah membuat banyak wanita lebih mampu menghadapinya. Dengan mengenali nyeri dan teknik untuk menghadapi nyeri persalianan merupakan upaya untuk membantu proses persalianan. Teknik untuk mengurangi rasa sakit/nyeri pada persalinan dengan mengurangi rasa sakit langsung pada sumbernya, mengurangi reaksi mental negative, emosional dan rangsangan alternative yang kuat (Simkin dkk, 2008). Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui pengaruh kompres hangat terhadap penurunan fisiologi nyeri persalinan kala 1 fase aktif di klinik Afri Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2017.Penelitian ini merupakan penelitian Pra Eksperimental dengan rancangan one group pre test - post test. Dilakukan di Klinik Afri Kabupaten Ogan Ilir tahun 2017, penelitian dilakukan sejak dibuatnya proposal bulan Februari 2017 sampai penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2017. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu inpartus pada fase aktif kala 1 di klinik Afri Kabupaten Ogan Ilir yang di ambil pada bulan Januari-Februari 2017 yang berjumlah 35 orang. Teknik pengambilan sampel ini menggunakan nonprobability sampling metode yang digunakan purposive sampling. Data dalam penelitian ini didapat dengan menggunakan instrument observasi, setelah semua data terkumpul selanjutnya dilakukan pengolahan data dengan menggunakan program SPSS versi 22. Skala nyeri sebelum diberikan kompres hangat dari 33 responden yang mengalami nyeri sedang berjumlah 20 responden (60,6%). Skala nyeri sesudah diberikan kompres hangat dari 33 responden yang mengalami nyeri ringan berjumlah 20 responden (60,6 %). Hasil analisis wilcoxon didapatkan nilai p = 0,003, maka dapat disimpulkan perbedaan yang signifikan skala nyeri pada ibu yang akan melahirkan pada kala 1 fase aktif sebelum dan sesudah diberikan kompres hangat di Klinik Afri Kabupaten Ogan Ilir  Tahun 2017. Upaya non farmakologis dalam pelaksanaan penurunan rasa nyeri pada persalianan di kala 1 dapat menggunakan teknik kompres hangat.
Kata Kunci : Nyeri Persalinan, Kompres hangat

<div>HUBUNGAN LAMA PEMAKAIAN KB SUNTIK 3 BULAN  DENGAN PERUBAHAN BERAT BADAN DI BPM DEWI ANGGRIANI PALEMBANG TAHUN 2017</div>

HUBUNGAN LAMA PEMAKAIAN KB SUNTIK 3 BULAN  DENGAN PERUBAHAN BERAT BADAN DI BPM DEWI ANGGRIANI PALEMBANG TAHUN 2017

Junie Harista | Kebidanan | 2017 | views 32 kali

ABSTRAK
 
Hingga saat ini perkembangan keluarga berencana (KB) di Indonesia masih belum menggembirakan. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan angka pengunaan kontrasepsi (CPR) dan penurunan angka unmet neeed hasil SDKI dari tahun ke tahun yang belum mencapai target RPJM .Seperti kita ketahui bahwa penggunaan metode KB yang tepat, terutama pada pasca persalinan dapt mendukung penurunan Angka Kematian Ibu. Penurunana AKI menggunakan target MDGs yang ingin kita capai sebelum Tahun 2015.  Berdasarkan World Health Statistics 2005-2015,  bila kita bandingkan dengan Negara ASEAN lainnya, pengguna KB di Indonesia sudah melebihi rata. Namun angkanya masih lebih rendah dibandingkan dengan Vietnam, Kamboja, dan Thailand, padahal berdasarkan data Family Planning Worlwide, JumlahWUS di Indonesia yang tertinggi diantara negara ASEAN lainnya. Dengan kata lain meningkatkan angka CPR di Indonesia.  Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan lama pemakaian KB Suntik 3 bulan dengan perubahan berat badan di BPM Dewi Anggriani Palembang tahun 2017.Metode Penelitian ini adalah survey Analitik dengan pendekatan  Cross  Sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh akseptor KB Suntik 3 bulan  di BPM Dewi Anggriani Palembang  tanggal  19 Juni-07 Juli 2017, dengan sampel menggunakan Accidental Sampling berjumlah   40  responden. Dengan Analisa data uvariat dan bivariate Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 40 responden dengan lama pemakaian KB suntik 3 bulan < 1 tahun yang naik berat badan sebanyak 1 (14,3%) lebih sedikit dibandingkan dengan yang tetap sebanyak 6 (85,7%). Sedangkan lama pemakaian  ≥ 1 tahun KB suntik 3 bulan yang naik berat badan sebanyak 22 (66.7%) lebih banyak dibandingkan dengan yang tetap sebanyak 11(33,3%) . Hasil uji statistik Chi Square, diperoleh nilai p value = (0.029) <? (0,05) artinya  ada hubungan bermakna lama pemakaian KB suntik 3 bulan dengan kenaikan berat badan, dengan demikian hipotesis yang menyatakanada hubungan lama pemakaian KB suntik 3 bulan  dengan kenaikan berat badan lahir rendah terbukti secara statistik.
Kata Kunci : KB Suntik 3 bulan, Berat Badan, lama pemakaian.

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNA KB IUD DI BIDAN PRAKTIK MANDIRI FAUZIA HATTA PALEMBANG

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNA KB IUD DI BIDAN PRAKTIK MANDIRI FAUZIA HATTA PALEMBANG

Deby Meitia Sandy | Kebidanan | 2017 | views 36 kali

ABSTRAK
 
Program Keluarga Berencana (KB) di indonesia diakui di dunia internasional sebagai program sukses karena berhasil meningkatkan angka prevalensi kontrasepsi, akseptor KB dan menurunkan angka kelahiran yang cukup signifikan. Indonesia merupakan Negara yang dilihat dari jumlah penduduknya ada pada posisi keempat didunia dengan laju pertumbuhan penduduk yang masih relative tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui  faktor-faktor yang berhubungan dengan pengguna KB IUD di BPM Fauzia Hatta Palembang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain survey analitik dengan pendekatan case control. Lokasi penelitian dilakukan di BPM Fauzia Hatta Palembang. Waktu penelitian dilakukan pada tanggal 15-20 Juni 2017. Populasi penelitian yaitu ibu yang menggunakan KB IUD dan tidak menggunakan KB IUD tahun 2016 yang berjumlah 3925 responden. Sampel penelitian yaitu kelompok kasus dan control berjumlah 84 responden. Analisa yang dilakukan adalah analisa data univariat, bivariat dan multivariat. Berdasarkan data univariat didapatkan data dari 84 responden sebanyak 42 responden (50%) pengguna KB IUD dan sebanyak 42 responden (50%) bukan pengguna KB IUD, pengguna KB IUD yang lebih banyak usia >30tahun yaitu 71,4% dan bukan pengguna KB IUD usia <30tahun yaitu 81%, pengguna KB IUD lebih banyak dengan paritas beresiko yaitu 64,3% dan bukan pengguna KB IUD paritas tidak beresiko sebanyak 59,5%, pengguna KB IUD yang berpendidikan tinggi lebih banyak yaitu 83% dan bukan pengguna KB IUD yang berpendidikan tinggi yaitu 57%, pengguna KB IUD yang bekerja 50% dan tidak bekerja 50%. Berdasarkan data bivariat diperoleh hasil ada hubungan antara paritas dan pendidikan dengan pengguna KB IUD dan tidak ada hubungan antara usia dan pekerjaan dengan pengguna KB IUD di BPM Fauzia Hatta Palembang. Berdasarkan data multivariate diperoleh variabel yang paling dominan terhadap pengguna KB IUD adalah variabel penddikan dengan nilai OR terbesar yaitu 4,074. Untuk petugas kesehatan diharapkan dapat lebih meningkatkan konseling dan memberikan penyuluhan kepada ibu untuk meningkatkan pengetahuan dalam kegunaan KB IUD.
Kata Kunci : KB IUD, usia, paritas, pendidikan, pekerjaan

<div>EFEKTIVITAS EM4 (Effective Microorganisms -4) dan MOL ( Mikroorganisme Lokal)  SEBAGAI AKTIVATOR PADA PEMBUATAN KOMPOS SKALA RUMAH TANGGA DI KOTA MAKASSAR</div>

EFEKTIVITAS EM4 (Effective Microorganisms -4) dan MOL ( Mikroorganisme Lokal)  SEBAGAI AKTIVATOR PADA PEMBUATAN KOMPOS SKALA RUMAH TANGGA DI KOTA MAKASSAR

A.M. Fadhil Hidayat | Kesehatan Lingkungan | 2017 | views 56 kali

ABSTRAK

 
Sampah merupakan permasalahan yang pelik bagi masyarakat maupun pemerintah daerah. Sampah organik yang dihasilkan sebanyak 60%, sedangkan Sampah plastik sebanyak 16%. Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi volume sampah organik yang mencapai 60% adalah dengan memanfaatkan sampah organik sebagai kompos padat maupun cair. Kompos merupakan pupuk yang dibuat dari sampah organik yang sebagian besar berasal dari rumah tangga. Tujuan penelitian  ini untuk mengetahui efektivitas EM4 dan MOL sebagai aktivator pada pembuatan kompos skala rumah tangga. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah pra-eksperimen dengan rancangan post test only control group. Pengamatan dilakukan di Workshop Akademi Kesehatan Lingkungan Muhammadiyah Makassar. Data yang dijadikan indikator dari pengomposan adalah Warna, Tekstur, dan Bau. Hasil penelitian menunjukkan kompos dengan bantuan EM4 ataupun MOL sama-sama memerlukan waktu  selama 22 hari untuk menjadi kompos, tetapi pada hari ke-4  sampai hari ke-6 terjadi perbedaan yaitu warna kompos dengan penambahan MOL lebih coklat dibanding dengan penambahan EM4. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi suatu alternatif pengendalian sampah organik dengan menjadikannya sebagai bahan utama dalam pembuatan kompos. Diharapkan untuk penelitian selanjutnya dapat memperhatikan besar kecilnya pencacahan bahan organik sebelum melakukan pengomposan dengan tujuan untuk mempercepat penghancuran. Mengingat banyak bahan yang dijadikan sebagai kompos dan aktivator maka perlu dilakukan penelitian dengan media yang berbeda yang mungkin lebih efektif. 
Kata kunci : Aktivator, Sampah, Kompos, EM4 dan MOL