HUBUNGAN PENGETAHUAN, LINGKUNGAN DAN PENDAPATAN KELUARGA TERHADAP KEJADIAN DIARE PADA BALITA DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS TABA KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2015

Nadi Aprilyadi | Keperawatan | 2016

Di Indonesia, sekitar 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau sekitar 460 balita setiap harinya. Dari hasil Survey (SKRT) di Indonesia, diare merupakan penyebab kematian nomor 2 pada balita dan nomor 3 bagi bayi serta nomor 5 bagi semua umur (Ita, 2008). Berdasarkan latar belakang di wilayah kerja Puskesmas Taba kejadian diare pada tahun 2010 sebesar (22,3 %). Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan, lingkungan dan pendapatan Keluarga terhadap kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Taba Kota Lubuklinggau Tahun 2011. Desain penelitian ini deskritip analitik dengan pendekatan Cross Secsional.populasi dalam penelitian ini adalah jumlah kejadian diare di Puskesmas Taba yaitu 422 kasus sedangkan sampel penelitian diambil sebanyak 84 orang. Hasil penelitian didapatkan pengetahuan baik (42,86%) dan yang kurang (57,14%),  lingkungan keluarga baik (28,57%) dan yang kurang (71,43%). yang pendapatan rendah (45,5%) dan pendapatan tinggi (54,5%), sebanyak (29,76%) balita mengalami diare dan  (70,24%). Tidak mengalami diare. Hasil analisis uji Statistik didapatkan tidak ada hubungan bermakna antara pengetahuan ibu  terhadap kejadian diare didapat nilai ρ = 0.068 (>0,05), ada hubungan bermakna antara lingkungan terhadap kejadian diare didapat nilai ρ value = 0.037 (< 0,05), tidak ada hubungan bermakna antara pendapatan keluarga  terhadap kejadian diare nilai ρ value = 0.568 (> 0,05). Diharapkan kepada pimpinan Puskesmas Taba khususnya pemegang program P2PL lebih meningkatkan lagi dalam memberikan penyuluhan terhadap masyarakat tentang penyakit Diare.

Kata Kunci : Diare, Pengetahuan Ibu, Lingkungan dan Pendapatan

» Kembali